Who's Online

Disclaimer


|APAPUN yang anda temui di sini adalah ekspresi pribadi | SAYA tidak mewakili lembaga manapun dan sepenuhnya tanggung jawab pribadi saya | © SILAHKAN mengambil isi blog ini, namun sangat elok jika menyertakan sumber atau rujukan | SUDILAH menegur saya dan memberikan maaf, jika menemukan karya anda terlewat dalam penyebutan sumber |

inspirasi


Komentar Tulisan

Mendapatkan Akses Pr...
plz dong yg premiumnya
dimna kk ?
27/11/07 05:04 Lagi...
Oleh rochimdoni

Pesta blogger itu......
Ayo maju terus..
jangan lupa Blogger Palu yah.. PBC gitu loh.. :roll
22/11/07 00:37 Lagi...
Oleh fritz

Mendapatkan Akses Pr...
plz dong premium id dan passwordnya
dimna cranya kk kalau bsa kasih dong id dan paswoordnya
19/11/07 18:39 Lagi...
Oleh rochimdoni

Blogger RI Kalahkan ...
ngOPINI-ku
Selamat menikmati rumah barunya, agak nyaman rasanya disini....
19/11/07 16:43 Lagi...
Oleh daeng limpo

Menggagas Palu Blogg...
Dahysat
Ide bagus yang harus direalisasikan dengan segera
19/11/07 08:23 Lagi...
Oleh Anggara



Pesan





Free shoutbox @ ShoutMix


My BlogLog



Home arrow News Host arrow Inspirasi arrow Pendidikan yang sejati membantu revitalisasi ruang publik demokratis
Pendidikan yang sejati membantu revitalisasi ruang publik demokratis PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
The News - Inspirasi
Ditulis Oleh andimiswar   
Selasa, 23 Oktober 2007

Refleksi akhir tahun pendidikan ditutup dengan beberapa potret buram.
Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsis- wa didik, dan
intimidasi terhadap etika profesi pendidik menjadi potret-potret besar
refleksi akhir pendidikan tahun ini. Kita sekaligus menyaksikan
beragam impian pendidikan untuk mengedepankan pendidikan
humanis-liberatif.

Di tengah berbagai skandal pendidikan, kita melihat tunas-tunas
harapan yang berani mengimajinasikan model-model pendidikan baru
sebagai kritik atas praktik komersialisasi, kekerasan, dan pelacuran
etika profesi pendidik. Para pelopor pendidikan ini menyodorkan
pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap filsafat pendidikan tradisional
yang menggagahi hakikat pendidikan.

Kapitalisasi pendidikan

Henry A Giroux dalam Border Crossings: Cultural Workers and the
Politics of Education (1993) mengungkapkan keprihatinannya terhadap
praktik-praktik buruk pendidikan yang memuja efisiensi ekonomis.
Terjadi degradasi identitas institusi pendidikan dari institusi yang
menyelenggarakan pendidikan publik menjadi pabrik kuli. Banyak
institusi pendidikan yang memeluk efisiensi ekonomis banting setir
menjadi perusahaan penyedia birokrat elite masyarakat dan kuli kerja.
Giroux mensinyalir bahwa reduksi dan penyempitan hakikat pendidikan
ini terjadi karena tiadanya atau minimnya filsafat pendidikan.
Akibatnya, institusi pendidikan gagal melihat kemungkinan bahwa proses
pembelajaran menjadi salah satu pilar utama dalam humanisasi hidup publik.

Pendidikan tradisional berparadigma ekonomis. Seluruh proses
pembelajaran melulu bertujuan demi kompetensi ekonomis. Standardisasi
kurikulum, sertifikasi kelulusan, kenaikan angka akademik, dan
kriteria evaluasi pendidikan diletakkan dalam kerangka kompetensi
ekonomis. Pem- belajaran siswa didik yang semula menjadi aktivitas
kolektif berubah menjadi aktivitas individual dalam paradigma ini.
Sosok pendidik dalam guru menghilang dan digantikan dengan sosok guru
sebagai tukang instruksi di kelas.

Reformasi pendidikan bahkan sering gagal menyentuh problem pendidikan
pada taraf yang paling permukaan karena kita melakukannya dengan tetap
mempertahankan bingkai masyarakat kapitalis. Kekerasan terhadap dan
antarsiswa didik mencerminkan buramnya institusi pendidikan yang tidak
memiliki atau minim filsafat pendidikan. Kekerasan berlawanan dengan
hakikat pendidikan sebagai humanisasi subyek. Kekerasan mengidolakan
relasi penguasa dan bawahan yang mendehumanisasikan keduanya.

Filsafat pedagogis

Pendidikan radikal atau kritis dibangun di atas pigura filsafat
pedagogis yang jelas. Pendidikan mengusahakan pembentukan individu dan
masyarakat sebagai subyek- subyek humanis-liberatif. Profesi pendidik
itu bermartabat agung karena mereka senantiasa menjaga dan
mengembangkan intelektualitas transformatifnya. Mereka tidak
membiarkan kecurangan, kekerasan, dan praktik-praktik tak manusiawi
lainnya karena tindakan-tindakan itu melecehkan etika profesi mereka.

Permohonan perlindungan terhadap profesi pendidik hendaknya dipahami
sebagai usaha untuk menjaga etika profesi pendidik. Posisi mereka
sebagai pendidik justru terancam ketika mereka hendak menyelamatkan
pendidikan di Indonesia. Ancaman terhadap etika profesi pendidik itu
mengambil bentuk sanksi permintaan pengunduran diri, pemecatan,
penundaan kenaikan pangkat, dan sebagainya. Ironisnya, pihak sekolah
justru menjadi pelaku yang mengancam profesi pendidik. Ancaman-ancaman
itu bertujuan memaksa para pendidik untuk menggadaikan etika profesi
mereka. Keseriusan untuk melindungi profesi pendidik hendaknya
ditunjukkan dengan keberanian memberi sanksi kepada murid, guru,
pengawas, dan kepala dinas pendidikan yang membiarkan kecurangan dalam
ujian nasional (Kompas 5/6/2007).

Henry A Giroux menyadari bahwa pendidikan berada dalam pusaran logika
pasar dan jargon kekuasaan. Insitusi pendidikan sering terseret dalam
pusaran-pusaran ini dan berubah menjadi mesin yang mencetak tukang
atau kuli ekonomi. Pendidik memiliki posisi sentral dalam situasi ini.
Giroux mengingatkan para pendidik akan identitas mereka sebagai
intelektual transformatif dalam pembelajaran siswa didik. Menyitir
John Dewey berkaitan dengan distingsi antara "education as a function
of society" dan "society as a function of education," Giroux
mendambakan figur pendidik yang mengantar siswa didik untuk memiliki
pengetahuan, karakter, dan visi etis yang membangun ruang publik.
Mereka dipanggil untuk membentuk pelaku-pelaku pembelajaran yang
memiliki intelektualitas transformatif. Pendidikan radikal atau kritis
mensyaratkan intelektualitas transformatif.

Aborsi pendidikan

Mengembangkan gagasan Giroux untuk konteks Indonesia, Paul Suparno
dalam Guru Demokratis di Era Reformasi (2005) juga prihatin terhadap
reduksi profesi pendidik sebagai tukang transfer pengetahuan. Guru
sebagai tukang pendidikan melecehkan intelektualitas karena mencekoki
siswa didik dengan pengetahuan basi. Mereka mereduksi pembelajaran
sebagai perburuan gelar akademik atau sertifikat kelulusan. Mereka
pasif terhadap pembaruan kurikulum pendidikan berbasis konteks siswa
didik dan masyarakat. Mereka tak segan-segan mengorupsi waktu belajar
siswa didik dan asal ikut kebijakan departemen pendidikan.
Praktik-praktik ini menghancurkan identitas siswa didik sekadar
sebagai hewan yang menyusu tukang mengajar.

Seruan untuk reformasi pendidikan juga terarah kepada pendidik demi
perlindungan siswa didik. Orangtua siswa didik berunjuk rasa untuk
mengontrol etika profesi pendidik di SD Plaosan II. Pendidikan sebagai
proses humanisasi-liberasi akan macet tanpa kehadiran pendidik sebagai
intelektual transformatif. Keterlambatan, ketidakhadiran, dan
kekosongan pendidik melecehkan etika profesi mereka. Orangtua siswa
didik juga menyerukan akses pendidikan bagi anak-anak dari strata
ekonomi bawah (Kompas, 31/5/2007 dan 2/6/2007).

Giroux menawarkan kepada pihak-pihak yang terlibat aktif dalam dunia
pendidikan untuk mengurai karut-marut pendidikan di Indonesia dari
titik filsafat pendidikan. Ia memiliki impian pendidik sebagai
intelektualitas transformatif. Komersialiasi pendidikan merusak subyek
pendidikan sekadar sebagai obyek ekonomis. Ia mengubah proses
pembelajaran sebagai pembentukan intelektualitas transformatif menjadi
pembodohan deformatif. Ia juga mengaborsi lahirnya institusi
pendidikan sebagai ruang publik demokratis.


Oleh Mutiara Andalas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/20/opini/3604226.htm

Mutiara Andalas Rohaniwan, Mahasiswa Licensiat di Jesuit School of
Technology, Berkeley, California


Add as favourites (40) | Views: 910

Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >